Orangtua dan Pembentukan Karakter Seorang Anak

Orangtua dan Pembentukan Karakter Seorang Anak – Banyak dari kita yang masih bergantung pada suatu alat atau mesin untuk melakukan suatu perkerjaan dibanding melakukannya secara manual. Tapi tahukah Anda jika hal ini terus menerus dilakukan akan menimbulkan efek negatif? Jika belum maka saya akan membahas hal ini lebih lanjut.

Memanfaatkan suatu alat atau mesin memang bisa mempersingkat waktu dan menghemat tenaga kita, namun hal ini akan berbanding terbalik jika anak-anak yang melakukannya. Seorang anak mempunyai insting yang kuat dan dalam proses belajarnya masih belum mempunyai pondasi yang bisa menyaring suatu hal dengan baik.

Orang tua dan Pembentukan Karakter Seorang Anak

Artinya yakni jika seorang anak diajarkan sesuatu, maka mereka akan meniru sama persis dengan yang kita lakukan, bahkan hal yang tidak kita ajarkan saja masih ditiru oleh mereka. Memang hal ini juga dipengaruhi oleh masing-masing karakter anak, namun pada umumnya demikian.

Sebaiknya seorang anak yang masih belum punya pola pikir matang hendaknya diajarkan hal-hal yang memicu gerakan dan melatih kecerdasan motorik mereka, jangan menunjukkan kemudahan-kemudahan yang ada. Karena hal tersebut akan membuat mereka punya pola pikir berbeda yang dapat menyebabkan malas untuk melakukan sesuatu.

“Jika ada yang mudah, mengapa harus ribet?”

Tentu saja semua orang ingin mendapatkan kemudahan dibanding harus melalui hal yang sulit. Namun tahukah anda? Orang-orang desa rata-rata mempunyai kegigihan yang tinggi dalam menghadapi segala situasi? Itu karena mental mereka sudah dibangun sejak kecil.

Orangtua dan Pembentukan Karakter Seorang Anak

Di tempat saya tinggal, jika orang tua telah sukses maka seorang anak harus belajar bagaimana rasanya pahit saat berjuang, bukannya mengajarkan mereka untuk bermalas-malasan. Mereka tidak ingin masa depan seorang anak hancur hanya karena mengandalkan orang tua dan hanya bermalas-malasan saja, mereka ingin anak-anaknya bisa sukses karena perjuangan, itu lebih pantas baginya.

Justru orangtua menganggap jika mereka tidak diajarkan untuk “bersusah-susah terlebih dahulu” maka hancurlah masa depannya. Kalau istilah Jawa-nya ya “sing priatin, mbesuk koe gedhe wis ora melu dhewek maning”.

Sebagai contoh, jika berangkat sekolah anak-anak lain diantar sepeda motor, maka ajarkanlah untuk jalan kaki. Bukan maksud menyiksa, namun karakter akan terbentuk dari sebuah pengalaman. Jika anak tersebut telah paham bagaimana menjalani sebuah proses, maka mereka akan tahu bagaimana cara mengelola hasilnya.

Contoh kedua, jika anak-anak lain sejak kecil sudah dibolehkan memegang HP, maka sebaiknya hindari terlebih dahulu karena efek radiasi posel dapat mengganggu proses belajar mereka. Namun jika kebutuhan HP untuk urusan tertentu dirasa penting maka saat ini sudah muncul teknologi baru yakni stiker anti radiasi sehingga seseorang bisa menggunakan smartphone tanpa khawatir terkena efek radiasi dari perangkat tersebut.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *