Khitan pada laki-laki atau yang dikenal juga dengan circumcision merupakan proses membuka kulup yang terdapat di ujung penis laki-laki. Secara medis, khitan sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap laki-laki. Bahkan dalam agama Islam, khitan ini diwajibkan atas semua laki-laki karena berhubungan dengan kesucian dan ibadah.
Banyak sekali manfaat yang didapatkan dengan berkhitan antara lain kotoran yang ikut bersama air seni dapat keluar hingga tuntas, dapat mengurangi resiko terjangkit berbagai macam penyakit karena virus, bakteri, atau jamur. Khitan atau sunat bisa dilakukan ketika masih bayi dan bisa juga ketika sudah dewasa. Namun sangat dianjurkan untuk melakukan sunat ketika masih anak-anak bahkan jika memungkinkan ketika masih bayi. Namun kebanyakan masyarakat melakukan sunat anak ketika anak berusia 10-12 tahun.
Sunat anak pada usia itu sebenarnya lebih sulit daripada sunat ketika masih bayi. Karena pada usia itu, anak sedikit banyak sudah mengetahui apa yang akan dilakukan ketika khitan yaitu memotong ujung kemaluannya. Efek traumatis khitanan bisa terjadi pada anak baik sebelum maupun sesudah khitanan.
Bayangan-bayangan mengerikan tentang sunat umumnya akan membuat anak takut disunat. Meskipun demikian tidak sedikit anak yang justru berani meminta untuk dikhitan baik karena mengetahui manfaatnya atau karena teman sepermainannya sudah banyak yang dikhitan.
Efek traumatis khitanan sebelum khitan berlangsung bisa disebabkan oleh :
- Gambaran yang salah tentang proses khitan misalnya anak mengira bahwa kemaluannya akan dipotong sekaligus sehingga pasti akan terasa sakit dan mengeluarkan banyak darah.
- Anak telah melihat alat-alat yang digunakan dalam proses khitan misalnya gunting operasi, jarum suntik untuk membius, dan, jarum jahit. Alat-alat ini yang digunakan dalam proses khitan dengan cara konvensional.
- Cerita teman-temannya yang menggambarkan proses khitan secara berlebihan sehingga membuat anak takut disunat.
- Dokter atau tukang sunat yang kurang bisa menumbuhkan keberanian anak atau kurang komunikatif.
Sedangkan efek traumatis khitanan setelah khitan berlangsung biasanya disebabkan karena rasa sakit setelah disunat. Terutama jika sampai terjadi pendarahan atau infeksi. Namun kini ada metode lain untuk sunat anak maupun dewasa yaitu metode laser dan smart klamp yang prosesnya lebih cepat dan tidak mengeluarkan darah. Meskipun demikian, menurut dokter cara konvensional masih lebih baik dari cara yang lain. Supaya anak termotivasi dan tidak takut disunat, maka orang tua harus memberi pengertian pada anak tentang manfaat dan keharusan berkhitan serta menghilangkan gambaran-gambaran menakutkan tentang khitan. Dan tidak ada salahnya jika orang tua menjanjikan hadiah untuk anak setelah dikhitan nanti.
