Efek psikologis sunat yang paling mengkhawatirkan adalah efek traumatis yang timbul pada diri anak. Di beberapa Negara, sunat dilakukan langsung pada bayi yang baru lahir dengan tujuan untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi penyakit menular pada alat kelamin. Sementara itu, dibeberapa Negara muslim dan Asia, sunat dilakukan pada anak yang telah beranjak dewasa, pada usia 7-10 tahun dengan alasan tradisi dan pemenuhan ajaran agama.
Perbedaan periode khitanan akan menimbulkan efek negatif khitanan yang berbeda pula. Laki-laki yang disunat ketika bayi memberikan respon berbeda dengan laki-laki yang disunat ketika dewasa, walaupun dampak sunat yang ditimbulkan tidak jauh berbeda. Pada bayi yang baru lahir, sunat dilakukan atas perintah orang tua. Tidak ada komunikasi kepada anak akan pentingnya khitanan dan penjelasan akan dampak yang ditimbulkan.
Dalam hal ini, akan muncul suatu sikap defensif dimana anak merasa dilukai secara paksa tanpa diberikan kesempatan untuk memilih. Anak merasa sebagai korban dokter dan orang tua. Dalam jangka panjang, kejiwaan anak akan terganggu yang memicu berbagai tindak kekerasan. Anak merasa frustasi dan malu, karena bahkan pada saat mereka kecil, orang tua tidak berhasil memberikan perlindungan.
Berbeda dengan anak yang disunat ketika beranjak dewasa, mereka biasanya lebih mengerti kenapa sunat perlu dilakukan. Di Negara muslim, khitanan merupakan wujud pelaksanaan tradisi bahwa seorang anak akan memasuki usia balig/dewasa. Laki-laki harus disunat agar ibadahnya bisa sempurna. Secara tidak langsung, hal ini memberikan efek positif sunat kepada anak, dimana rasa percaya dirinya akan meningkat seiring dengan pengakuan atas kedewasaannya. Efek positif sunat secara medis lebih kentara dibanding dengan efek psikologisnya. Pengangkatan selaput luar alat kelamin akan membuang kuman dan virus yang bisa menyebabkan kanker.
Namun demikian, dampak traumatis juga bisa muncul pada remaja dewasa yang disunat jika hal itu dilakukan dengan paksaan. Efek negatif khitanan seperti rasa takut yang berlebihan muncul karena bagian penting dari dirinya akan dilukai. Dalam kasus seperti ini dibutuhkan bimbingan dari keluarga dan lingkungan untuk memberi pengertian psikologis serta memberikan jaminan bahwa khitanan yang dilakukan sesuai dengan prosedur medis dan higienis.

adik ane ru sunat bro, mga mnjdi anak yg sholeh,taat kpd ortu,bangsa & agama, amin