Alergi
Setiap orang pernah mengalami alergi. Baik itu alergi terhadap bulu, debu, makanan, maupun terhadap hal atau benda lain. Jika sudah berdampak, maka seseorang harus mengetahui faktor pencetusnya. Jika salah dalam penanganan maka alergi dapat berakibat fatal.
Menurut Dr. Edwin Juanda Sp.KK., alergi merupakan kegagalan kekebalan tubuh, dimana dalam hal ini tubuh menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologik terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenk (antigenic) atau atopic. Alergi bisa muncul dimana saja dan kapan saja tergantung organ mana yang terkena. Jika terkena dikulit dapat menimbulkan eksim, dermatitis kontak atau gatal akibat memakai perhiasan anting, cincin, kalung dan lainnya, atau dapat juga berakibat biduran. Serangan alergi diparu-paru dapat menjadi serangan asma, dihidung bisa menjadi pilek serta hidung gatal, bersin dan ingus cair. Bisa juga mengenai organ mata.
Edwin menjelaskan bahwa ada dua faktor menyebabkan alergi, antara lain faktor internal berasal dari dalam tubuh seperti adanya faktor gen yang menyebabkan seseorang sesak napas, sering bersin hingga kejang. Faktor eksternal berasal dari luar. Contohnya kontak langsung dengan bahan maupun lingkungan seperti obat yang diminum, maupun disuntik, debu, makanan (biasanya makanan yang berasal dari laut) dan minuman, hingga alergi terhadap cuaca seperti udara dingin.
Alergi hanya bisa dikurangi dampaknya. Kita hanya bisa meminimalisasi karena sampai saat ini belum ada obat yang telah teruji secara klinis untuk menghilangkan alergi, baik itu karena faktor internal maupun eksternal.
Alergi akan muncul jika bertemu dengan allergen atau pemicunya. Secara umum allergen dibagi menjadi dua yaitu allergen hirup dan allergen makanan. Yang termasuk alregen hirup adalah debu, tungau, tepung sari, potongan rumput, bulu hewan seperti kelinci, anjing, kucing.

Nah alergi debu ini biasanya dialami oleh pemudik yang hendak pulang kampung, agar lebih amannya disarankan untuk menggunakan masker penutup mulut.
Sementara untuk allergen makanan cukup banyak yang bisa dijadikan contoh. Misalnya alergi terhadap udang, kepiting, kacang, coklat, dan masih banyak yang lainnya. Penyedap masakan, kosmetik, serta bahan pengawet juga bisa menjadi faktor pencetus allergen.
Selain itu ada juga faktor pencetus yang dapat memperburuk alergi yang sudah ada, apalagi pada orang yang sudah terkena alergi. Faktor pencetus tersebut misalnya asap rokok, cuaca sampai pada wewangian yang bersifat tajam.
Yang harus diwaspadai adalah bahwa alergi ternyata juga bisa berakibat fatal. Salah satunya jika sampai terjadi larynx spasme atau pita suara terjepit. Bila hal ini sampai terjadi maka pita suara terjepit kejang dan kaku seperti dicekik, tahap ini amat berbahaya dan harus segera mendapat pertolongan. Oksigen tidak dapat masuk karena jalannya tertutup, pertolongan utama adalah dengan menyuntikkan adrenalin atau membuat lubang buatan pada pita suara agar udara dapat masuk.
Alergi memang tidak dapat disembuhkan. Tetapi orang bisa memanipulasi allergen yang akan masuk ke tubuh sehingga gejala alergi tidak timbul. Oleh karena itu usaha untuk mencari allergen sangat penting. Yang bisa dilakukan adalah mencegah, antara lain dengan menghidari allergen dan faktor pencetus. Kalau sudah tau alergi yang sebaiknya dirumah tidak dipasang karpet yang gampang berdebu.
Penggunaan wol juga sebaiknya dihindari, dan juga menjaga pola makan. Selama ini yang diobati hanya penyakit alerginya, misalnya mengobati pilek, mengobati asma, mengobati gatal-gatal. Memang proses ini akan mereda namun akan berulang kembali setiap bertemu dengan allergen. Di lain hal kita tidak dapat memotong faktor genetiknya karena memang sudah bawaan lahir.




